Butiran Mutiara Kebahagian…!!!
Pengalaman masa lalu meninggalkan tilas kesedihan
Memunculkan pada kita jati dirinya
Ia muncul dan terungkap dalam kegelapan malam
Dengan linangan air mata di pelupuk mata
Ia menangisi dosa yang telah lalu
Dan membuat orang lain menangis
Siapakah gerangan yang tidak mempunyai hati yang beku
(Ketahuilah) hati orang ini sungguh telah mengalaminya.
Tangisan bukanlah potret ketidakberdayaan. Air mata bukanlah tanda kepasrahan. Ia adalah bentuk pemaknaan terhadap kekayaan pribadi dan jatidiri. Sebuah pengakuan tulus tentang hakikat kita di hadapan 4JJI Yang Maha Mencipta. Bahwa kita, sunggunh bukanlah apa-apa, jika 4JJI tidak menganugrahi rakhmat-Nya.
Air mata juga menjadi pengingat dari keterlenaan di hadapan gemerlapnya dunia. Penyentak kesadaran bagi nurani yang terkoyak akibat kelalaian dan kemaksiatan. Air mata pula yang membangun tegaknya peradaban dan menjaga pilar-pilarnya dari keruntuhan. Tak heran, ketika Kekayaan Kisra Persia terhampar di depan Umar bin Katthab ra, khalifah yang terkenal zuhud dan wara’ ini berlinang air mata. Ketika Abdurrahman bin Auf ra menanyakan sebabnya, Umar pun menjawab "Tidaklah harta ini 4JJI berikan kepada suatu kaum kecuali dimunculkan pada mereka permusuhan dan kebencian."
Betapa indah dan mulia air mata orang-orang shalih. Air mata itu bukanlah sekedar air mata yang hilang begitu saja ketika dihapuskan. Ia adalah bagian dari kemuliaan dan kelembutan hati yang tertumpahkan. Ibarat butiran mutiara yang tercurah mengalunkan untaian-untaian tasbih dan kehalusan hati, lalu mengumandangkan keluhan-keluhan yang berarak naik menuju awan. Terbungkus dengan semerbak harum keikhlasan, cinta dan keyakinan.
Air mata ini muncul dari rasa takut, cinta dan harapan. Air mata yang menghapuskan dosa, meninggikan dan menjernihkan jiwa serta membangkitkan hati untuk mencapai kebahagian hakiki. Sebuah perasaan yang jika diketahui kenikmatannya oleh para penguasa, niscaya mereka akan merebutnya dari orang-orang yang banyak menangis karena rasa takut dan cinta kepada 4JJI Yang Maha Pengasih lagi Maha Mulia. Dzat Yang Maha Hidup, tidak pernah mati. Celakalah orang yang mati tapi belum pernah merasakan kenikmatan air mata orang-orang shalih…
(taken from my favorite book " Dumu’ Ash-Shalihin : Air Mata Orang-orang Shalih " ).