“oh begini to…”
Kebenaran adalah sesuatu yang multi facet (bagi yang tidak tahu seperti saya). Karena apa ? Kalau Rambo (atau Mannix?) mengatakan :”Danger is my middle name !!!” Maka Kebenaran atau al Haqqu adalah salah satu Attribute Allah. Jadi Kebenaran adalah hal yang tidak dapat ditangkap. Kalau kebenaran datang, maka umumnya kita tidak dapat lagi berdebat. Kalau menurut istilah iklannya salah satu cereal “Mana Sempat?” Ketika Nabi Musa a.s. menyampaikan keinginannya untuk dapat melihat Allah (karena dia merasa sudah mendapat privilege bisa bercakap-cakap langsung dengan Allah, lalu mengira boleh dong melihat Allah), maka dijawab Allah :”Kamu tidak dapat melihat Aku.” Lanjut Allah :”Tapi begini saja. Kamu lihat bukit (atau gunung) disana itu ? Kalau kamu tetap bisa melihat gunung itu ketika nanti saya hadirkan Diri Ku kesana, maka artinya kamu bisa melihat saya.” Maka Allah tajjali kepada gunung tersebut. Gunung itu lebur (hilang) dan Nabi Musa pingsan. Setelah siuman dia memohon ampun.
Artinya kalau yang benar datang maka yang batil (lawannya benar) akan hilang. Kita semua tahu bahwa kita akan mati. Mati adalah salah satu kebenaran. Tapi sebelum maut itu datang, kita hanya bisa mereka-reka saja. Begini. Begitu. Begitu maut itu datang, mungkin kitapun tak sempat mengatakan :”oh begini to mati itu.” Ketika kebenaran di dalam al Qur’an datang (down load) ke diri Nabi Muhammad s.a.w., ya beliau tidak mungkin merasa perlu mendebat :”Kenapa babi haram? Kenapa ini begini? Kenapa itu begitu?”
(Sutono bin Joyosuparto, Hidup adalah belajar…belajar adalah hidup)