Agar Kau Pilih ….

Assalamualaikum
Wr,Wb.
Mohon maaf  atas segala kesalahan dan kekhilafan….
Taqobballahu Minna Wa Minkum Shiyamana wa Shiyamakum, Kullu aamin wa Antum Bi
Khairin Minal Aidin Walfaidzin….

Wassalamu’alaikum Wr,Wb.

Agung Adi S

===============================================================

Agar
Kau Pilih ….

Hari
itu, seoarang shahabiyah menuangkan air wudhu untuk shahabat Ali. Ia bermaksud
membantu Ali, menuangkan air dari tempat ketinggian. Kemudian jatuhlah ceret
dari tangan shahabiyah tersebut mengenai wajah Ali. Hal ini membuat Ali basah
kuyup dan kesakitan, maka shahabiyah itu pun bersedih. Kemudian Ali ra
mengangkat kepalanya.

Shahabiyah itu segera menimpali dengan membaca firman Allah SWT, “Dan
orang-orang yang menahan amarahnya…”
lantas Ali menyahutnya, “Saya telah
menahan amarahku.” Kemudian shahbiyah ini mengutip ayat lagi, “Dan memaafkan
kesalahan orang lain.”
Maka Ali berkata, “Allah benar-benar telah memaafkan
kesalahanmu.”

“Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik,” shahabiyah ini
mengutip firman-Nya lagi. Ali pun bergegas mengatakan, “Pergilah maka kau
bebas.”

Petikan kisah tersebut, melukiskan kesabaran sosok Ali ra yang berkenan menahan
amarah dan memaafkan orang lain.

Adakalanya, orang pada waktu
tertentu mampu menahan amarahnya, tetapi tak bisa memadamkan bara api
dendamnya, sehingga belum mau memaafkan keasalahan orang. Hal ini berarti,
sikap menahan amarah yang terlahir bukan untuk menggapai ridha Allah SWT,
melainkan akibat tak kuasa atau berada di pihak yang lemah sehingga
mengurungkan kemarahannya. Bila kesempatan tiba, tipe seperti ini akan
mengorbarkan api permusuhan yang lebih tragis.

Idealnya, menahan amarah diikuti dengan melepas kebencian, memaafkan orang lain
dan berbuat baik kepadanya. Lihatlah, bagaimana Jibril pernah berwasiat,
“Maafkanlah orang yang menganiaya kamu, berilah hadiah orang yang tak mau
memberimu dan ber-silaturahim-lah terhadap orang yang memutus tali silaturahim.
Sebuah wasiat yang menakjubkan, membuang semua kebencian dan berubah menjadi
untaian kasih-sayang. Percikan api kemarahan harus dihindari dan disumbat
rapat-rapat, faedahnya bukan saja di dunia melainkan juga di akhirat.

Imam Ahmad mengisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, “Siapa
yang menahan amarah dan ia sebenarnya mampu untuk meluapkannya, pada hari
kiamat kelak, ia akan dipanggil oleh Allah dihadapan semua makhluk lalu ia
disuruh memilih bidadari yang ia inginkan.”


(
diambil dari: SQ,No.4.Th.7 / September 2007)

 

Leave a Reply