Alhamdulillah…..

May 8th, 2008 by agung-adisusanto

Maka nikmat Tuhan
kamu yang mana lagikah yang akan kamu dustakan?

Mencari Matahari…

May 6th, 2008 by agung-adisusanto

“Aku tak pernah bisa menemukan ‘Matahari’, walau aku tak
pernah menyerah untuk mencarinya.

Tapi kini, tanpa
aku duga, aku menemukan pasangannya: ‘Rembulan’.
Padanya aku seperti
melihat setitik cahaya yang aku cari.

Apakah rembulan yang aku temukan dapat melepas dahaga yang
selama ini aku tanggung?”

(Mencari Matahari, Gola Gong)

Bubur Panas… (Tekad bukan Nekat) :)

May 1st, 2008 by agung-adisusanto

Tekad, tak sekedar angan-angan. Angan dan
lamunan hanya membuang waktu. Melambung, mengangkasa dan lupa diri, tak mampu
mengubah keadaan.

Tekad, menggerakkan nurani jiwa yang
melahirkan bahasa tubuh. Beringsut dan berangsur untuk melakukan aksi nyata.
Terlihat mantap dan gesit menerobos halang rintang dan menata strategi.

Bila ingin mengawali sesuatu yang besar,
ingin mengentaskan kemelut persoalan, berawallah dari tekad yang kuat.

Namun dalam kenyataan selalu ada banyak
problem dan kendala di depan mata. Karenanya, tekad saja tentu tidak cukup.
Perlu keteraturan langkah dan berkesinambungan. Tekad membaja dengan semangat
juang dan pengorbanan.

Tekad, bukan berarti nekat apalagi
membabi-buta. Ianya harus mengenali siapa dirinya, dan pada siapa ia bergelut,
akan kemana ia melangkah? Tekad yang tanpa perhitungan dapat berakibat
kehancuran, kebinasaan yang justru akan sulit untuk bangkit lagi.

Adakalanya suatu persoalan begitu
kompleks, tak ubahnya menyantap bubur panas. Bila hanya bermodal kenekatan
saja, justru bibir dan lidah akan rusak. Tak boleh langsung disantap, perlu
kesabaran dan langkah yang benar. Bubur tersebut tak bisa disantap sekaligus,
tapi butuh waktu!

Lain halnya, bila tekad matang menjadi
andalan. Untuk menyantap bubur itu, tak perlu tergesa-gesa. Menyantap dengan
hati-hati dari bagian terdekat. Berawal dari bagian yang paling pinggir,
terjangkau dan mengukur sejauh mana kekuatan kita agar tidak kepanasan.
Pastinya, bubur akan terasa lebih nikmat.

Ternyata ilustrasi bubur panas ini
mengandung hikmah pelajaran. Bahwa untuk mengawali sesuatu tak bisa dengan cara
instant. Rasulullah butuh 13 tahun untuk menanamkan akidah. Al-Quran tidak
turun sekaligus.

Selangkah demi selangkah, mengukur
kekuatan. Berawal dari yang terkecil, berawal dari yang bisa kita lakukan,
berawal dari yang terjangkau. Bila tekad dan usaha ini telah berjalan
beriringan, tinggallah bertawakal kepada Allah. Allah akan menghargai setiap
tekad kita, setiap proses yang kita tempuh.

(Tekad tak berarti nekad; SQ,April2008)

Menanti Pemuda Kahfi…

March 13th, 2008 by agung-adisusanto

Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?
(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam
gua, lalu mereka berdo’a: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada
kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus
dalam urusan kami (ini)."

Mari Kita Berdoa Dek!

March 9th, 2008 by agung-adisusanto

Kelemahan kita
adalah kekurangan kita.

Kekurangan kita
adalah ketergantungan kita.

Kita tergantung
kepada bantuan-Nya.

Ketergantungan
selayaknya mengharuskan kita berdoa kepada-Nya.

Hanya Dia dzat
yang paling tulus menerima pengaduan kita.

Mari kita berdoa
Dek!

 

”Dan
Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah)
bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia
memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(Al-baqarah:186).

Agar Kau Pilih ….

October 22nd, 2007 by agung-adisusanto

Assalamualaikum
Wr,Wb.
Mohon maaf  atas segala kesalahan dan kekhilafan….
Taqobballahu Minna Wa Minkum Shiyamana wa Shiyamakum, Kullu aamin wa Antum Bi
Khairin Minal Aidin Walfaidzin….

Wassalamu’alaikum Wr,Wb.

Agung Adi S

===============================================================

Agar
Kau Pilih ….

Hari
itu, seoarang shahabiyah menuangkan air wudhu untuk shahabat Ali. Ia bermaksud
membantu Ali, menuangkan air dari tempat ketinggian. Kemudian jatuhlah ceret
dari tangan shahabiyah tersebut mengenai wajah Ali. Hal ini membuat Ali basah
kuyup dan kesakitan, maka shahabiyah itu pun bersedih. Kemudian Ali ra
mengangkat kepalanya.

Shahabiyah itu segera menimpali dengan membaca firman Allah SWT, “Dan
orang-orang yang menahan amarahnya…”
lantas Ali menyahutnya, “Saya telah
menahan amarahku.” Kemudian shahbiyah ini mengutip ayat lagi, “Dan memaafkan
kesalahan orang lain.”
Maka Ali berkata, “Allah benar-benar telah memaafkan
kesalahanmu.”

“Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik,” shahabiyah ini
mengutip firman-Nya lagi. Ali pun bergegas mengatakan, “Pergilah maka kau
bebas.”

Petikan kisah tersebut, melukiskan kesabaran sosok Ali ra yang berkenan menahan
amarah dan memaafkan orang lain.

Adakalanya, orang pada waktu
tertentu mampu menahan amarahnya, tetapi tak bisa memadamkan bara api
dendamnya, sehingga belum mau memaafkan keasalahan orang. Hal ini berarti,
sikap menahan amarah yang terlahir bukan untuk menggapai ridha Allah SWT,
melainkan akibat tak kuasa atau berada di pihak yang lemah sehingga
mengurungkan kemarahannya. Bila kesempatan tiba, tipe seperti ini akan
mengorbarkan api permusuhan yang lebih tragis.

Idealnya, menahan amarah diikuti dengan melepas kebencian, memaafkan orang lain
dan berbuat baik kepadanya. Lihatlah, bagaimana Jibril pernah berwasiat,
“Maafkanlah orang yang menganiaya kamu, berilah hadiah orang yang tak mau
memberimu dan ber-silaturahim-lah terhadap orang yang memutus tali silaturahim.
Sebuah wasiat yang menakjubkan, membuang semua kebencian dan berubah menjadi
untaian kasih-sayang. Percikan api kemarahan harus dihindari dan disumbat
rapat-rapat, faedahnya bukan saja di dunia melainkan juga di akhirat.

Imam Ahmad mengisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, “Siapa
yang menahan amarah dan ia sebenarnya mampu untuk meluapkannya, pada hari
kiamat kelak, ia akan dipanggil oleh Allah dihadapan semua makhluk lalu ia
disuruh memilih bidadari yang ia inginkan.”


(
diambil dari: SQ,No.4.Th.7 / September 2007)

 

Asli Virus lho…..!

September 30th, 2007 by agung-adisusanto

Assalamu’alaikum Wr,Wb.

Dear All,

Hari ini saya mendapat banyak comment dari teman2..yang isinya tentang gambar2 "lucu".

Tapi setelah saya konfirmasi ternyata mereka tidak pernah kirim comment gambar2 tsb.

Dan parahnya lagi ternyata beberapa temanku juga mendapat kiriman comment gambar2 "lucu" dari friendsterku juga.
Padahal sama sekali saya tidak pernah kirim comment tsb.

Asli ini mah kerjaannya Virus!
So, punten pisan buat siapa saja yang pernah dapat comment gambar2 "lucu" tsb… dellete aja deh! :)

Hatur nuhun….

Wassalamu’alaikum Wr,Wb.

Agung Adi S

Orang yang Merdeka!

August 20th, 2007 by agung-adisusanto

"Orang yg merdeka itu bukan orang yg sering berteriak merdeka!,
tapi orang yg merdeka itu orang yg tidak terikat kpd selain 4JJI
orang yg merdeka itu orang yg tidak bergantung kpd selain 4JJI
orang yg merdeka itu orang yg hidupnya matinya dan ibadahnya hanya kpd 4JJI
Ya Insya 4JJI semoga kita termasuk orang-orang yg merdeka!"

Si untung?

July 20th, 2007 by agung-adisusanto

Dari sebuah milis….
Percaya atau Tidak yang penting katanya: Open your Mind and
Enjoy your life! :-)

===================================================
The Luck factor : changing your luck, changing your
life - The
four essential principles
By Richard Wiseman.

RAHASIA SI
UNTUNG
Anda pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan
dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada
saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika
bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung.
Pemalas, tidak
pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan
Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan,
pastilah
itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si
Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.

Professor
Richard Wiseman dari University of Hertfordshire
Inggris, mencoba
meneliti hal-hal yang membedakan orang2
beruntung dengan yang sial.
Wiseman merekrut sekelompok orang yang
merasa hidupnya selalu untung, dan
sekelompok lain yang hidupnya selalu
sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan
bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak
berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian
the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa
jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2
dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan
tugas ini.
Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa
detik
saja! Lho kok bisa? Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua
Wiseman telah
meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi "berhenti
menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini". Kelompol sial melewatkan
tulisan ini ketika asyik menghitung gambar.
Bahkan, lebih iseng lagi, di
tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: "berhenti
menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan
menangkan $250!" Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang
benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya "scientific"
ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari
yang sial:

1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang
lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang,
pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana
hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap
yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman - pengalaman baru. Mereka
lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal,
dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial
lebih
tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan - kemungkinan
baru.

Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko
permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa
disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang
wanita memanggil pria di sebelahnya: "Mr. Buffet!" Hanya kejadian sekilas
yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang
beruntung.
Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya
ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika,
maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg
segera menyapa pria di
sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren
Buffet.
Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali
tidak mengenal
Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara
langsung kepada Buffet,
face to face. Setahun kemudian Buffet setuju
membeli jaringan toko permata
milik Helzberg. Betul-betul
beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang
beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada
logika.
Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung
ternyata
sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan "hati nurani"
(intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih.
Angka-angka akan
sangat membantu, tapi final decision umumnya dari "gut
feeling". Yang
barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani
tadi
akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang
tak
berkesudahan.
Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda
untuk mempertajam intuisi
mereka.
Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan
lebih
mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan
semakin tajam.

Banyak teman saya yang bertanya,
"mendengarkan intuisi" itu bagaimana?
Apakah tiba2 ada suara yang
terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu?
Wah, kalau pengalaman saya
tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara
yg tidak ketahuan
sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan.
Karena ini subtektif, mungkin saja
ada orang yang beneran denger suara. Tapi kalau
pengalaman saya,
sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk,
misalnya:

- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami.
"Gue kok
tiba2 deg-degan ya, mau dapet rejeki kali", semacam itu. Badan
kita
sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda
maknakan.
Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya
diwaspadai saja
kalau tiba2 meriang lagi.
- Isyarat dari perasaan.
Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau
melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami.
Contohnya, waktu saya masih
kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor
perusahaan tertentu.
Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di
kantor tersebut. Ini masih
terjadi untuk beberapa hal lain.
- Isyarat
dari luar. "Follow the omen" demikian kalau kata Paulo Coelho dibuku the
Alchemist. Baca "isyarat2" dari luar yang datang pada Anda. Saya juga
beberapa kali mengalami. Misalnya pernah saja tiba2 di TV saya kok merasa
sering melihat iklan suatu perusahaan tertentu, kemudian ketemu teman kok
membicarakan perusahaan itu lagi, di jalan melihat iklan perusahaan tadi.
Belakangan perusahaan tadi ternyata
menjadi klien saya.
Jadi kalau akhir2
ini Anda sering berpapasan dengan Mercedez S Class dua pintu, barangkali
itu suatu pertanda. :-))

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang
yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan.
Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan
sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian
yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan
orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya
orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti
mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal
yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi
situasi buruk dan merubahnya
menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap
situasi selalu ada sisi baiknya.
Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman
meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank
tersebut diserbu kawanan perampok
bersenjata. Dan peserta diminta
mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang
dari kelompok sial umunya adalah:
"wah sial bener ada di tengah2 perampokan
begitu". Sementara reaksi
orang beruntung, misalnya adalah: "untung saya
ada disana, saya bisa
menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit". Apapun situasinya
orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu
beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya
menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan.

Bagi mereka yang
kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School.
Saya yakin
Anda semua sudah beruntung dan tidak perlu bersekolah di Luck School. Tapi
ada baiknya mengintip sedikit, latihan2 apa yang diberikan di Luck
School.

Salah satu yang menonjol dari orang sial adalah betapa mereka
sering mengabaikan hal-hal yang positif di sekitar mereka.
Misalnya salah
satu pasien Prof Wiseman, adalah seorang wanita single parent, yang
sangat sial.
Ketika diminta menceritakan hidupnya akan segera nyerocos
menceritakan setiap detil kesialannya. Betapa sulitnya
memperoleh pasangan, sudah ketemu pria yang cocok tapi si pria jatuh
dari motor, di lain kesempatan si pria jatuh dan patah hidungnya, sudah
hampir menikah, gereja nya terbakar, dan sebagainya. Pokoknya benar2 sial.
Padahal, dalam setiap interview, si wanita datang membawa 2 orang anak
yang sangat lucu2 dan sehat. Sebagian besar dari kita akan merasa sangat
beruntung memiliki 2 anak tadi. Tapi tidak bagi si wanita sial tadi.
Karena 2 anak lucu tadi tidak ada dalam pikiran si wanita, yang otaknya
sudah penuh dengan
"kesialan".

Latihan yang diberikan Wiseman untuk
orang2 semacam itu adalah dengan membuat "Luck Diary", buku harian
keberuntungan.
Setiap hari, wanita tadi harus mencatat hal-hal positif
atau keberuntungan yang
terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan
mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu
keberuntungan, besok-besoknya akan
semakin mudah dan semakin banyak
keberuntungan yg mereka tuliskan. Dan
ketika mereka melihat beberapa hari
kebelakang Lucky Diary mereka, semakin
mereka akan sadari betapa mereka
beruntung. Dan sesuai prinsip "law of attraction", semakin mereka
memikirkan betapa mereka beruntung, maka
semakin banyak lagi lucky events
yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si
Untung. Ternyata semua orang juga bisa
beruntung. Termasuk Anda.
Siap
mulai menjadi si Untung? First Open your Mind and Enjoy your life!

Mana Langkahmu!

March 19th, 2007 by agung-adisusanto

"(1) Setiap perkara yang dilarang bagi kalian, jadilah kalian yang paling menjauhinya. (2) Setiap perkara yang Ma’ruf yang diperintahkan bagi kalian, jadilah kalian yang paling mengamalkannya. Dan (3) Ketahuilah bahwa langkah kalian ada dua; langkah yang menguntungkan dan langkah merugikan. Maka perhatikan, kemana saja kau melangkah dari pagi hingga sore." (Wasiat terakhir Al-Imam Hasan al-Bashri: Hilyatul Auliya’, 1/275)